Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts

26.9.12

cermin

sepertinya aku pernah melihatmu,
tertawa lepas dalam keheningan yang mencekam
meski ragamu terbalut luka dan dendam
aku tahu bahwa kau ada

menemani

mungkin aku tak pernah pergi 
mungkin aku tak pernah lari
dari nyata yang kau ubah rupa menjadi sunyi yang mencekat jiwa
aku masih tetap ada
dan berpikir bahwa semua akan baik-baik saja

kalau kau pergi
lebih baik kau pecahkan semua bayangmu dari pikiranku
hingga aku merasa amat sendiri
dan cermin enggan menemani

sendiri tak pernah sesunyi ini kalau aku terus menerus menatap bayangmu
dari jendela di tengah koyak malam yang menitikkan air mata
aku ingin pergi jauh sebenarnya
menghilang bagai butir-butir hujan yang menguar ke udara

mengapa tidak kau renggut saja jiwaku?
hingga aku tak bisa membedakan lagi mana nyata dan mana semu
aku tidak sendiri
bayang cermin itu masih menemaniku
tidak sepertimu yang bahkan tarik ulur dengan waktu

kau mungkin tak pernah tahu
bahwa aku mencoba tersenyum dan mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi dalam hidupku
tetapi rindu ini menancap terlalu dalam dan mengalirkan perih tiap kali sendiri menyergap relungku

lebih baik kau pergi
lebih baik kau pergi
lebih baik kau renggut cermin itu dan pecahkan di depan mataku
sampai akhirnya kenyataan yang akan menamparku
bahwa aku sebenarnya tak ada untukmu
dan tak ada siapa-siapa lagi dalam hidupku

bagaimana bila aku memilih merindu dalam dendam?
menunggu sampai akhirnya nyawaku menjadi debu
dan tetap saja
kau tak akan pernah tahu
tidak akan ada yang pernah tahu
bahwa tiap malam aku mengenangmu
tiap malam aku menunggu seuntai kata yang dapat membasuhku bagai embun beku

sampai aku memutuskan untuk meranggas
dan tetap tak akan ada yang tahu

renggut saja semuanya
dan aku akan berpura-pura dan memasang senyum di muka
percaya bahwa semua akan baik-baik saja
meski bayang cermin itu mengganggu

lebih baik kau hancurkan cermin itu
jadi aku tahu kalau benar-benar tak ada seseorang pun yang menemaniku
dan tak ada yang mengisi bayang di cermin itu

suatu hari, mungkin aku akan memungutnya kembali
menyusunnya kembali
dan menyesali setiap alur retakannya yang mewarnai bayangku

berharap saja agar aku tak menyalahkan siapapun
termasuk dirimu


Jakarta, 260912

8.3.12

Kristal Hujan

Aku mungkin tak pernah melihat salju seumur hidupku. Butiran kristal seputih susu yang melayang jatuh kemudian meresap melalui pori-pori tanah dan menggemburkan bunga favoritku. Mungkin hanya ada dalam anganku. Mungkin hanya ada dalam benakku. Mungkin kristal-kristal indah itu hanya berguguran dalam kepalaku.

Aku hanya melihat hujan dalam hidupku. Jutaan rintik yang berlomba menyerbu bumi yang siaga menerima anugerah dari Yang Kuasa. Hujan yang dengan mistis mengajakku kembali ke masa lalu. Aroma tanah yang meruap merasuk otakku dan tirai-tirai memori seolah dibentangkan dalam pikiranku.

Hujan itu tak pernah menjawab apabila aku bertanya kepadanya. Aku bertanya apakah dia bersedia terus menemaniku dalam curahan rintiknya. Namun dia tidak menjawabku, dia hanya turun semakin deras, seolah mengusap air mataku yang merayap menggurat wajahku.

Aku bertanya apakah hujan membenciku. Dia tak menjawabku. Dengan indahnya dia turun dalam rintik yang membelaiku, memanjakan mataku dengan sihir sinarnya yang mencipta warna-warna indah di pelupuk mata.

Hujan tak pernah absen mengunjungiku. Dia menyapa dalam aura magis yang meninabobokan ketika hatiku yang kalut tak mampu mengantarku ke alam mimpi. Hujan tak pernah mengkhianatiku. Dia menemaniku ketika aku hanya menatap ke dalam cermin dan memaksa diri menggores senyum sembari mengatakan bahwa aku tidak sendiri.

Hujan itu selalu memelukku. Ketika sendi-sendiku mulai goyah, duniaku mulai berpusing, dan ratusan sembilu berusaha mengoyak hatiku. Hujan akan merengkuhku dalam dekap dinginnya. Hujan akan mendekapku dalam kehangatan semu yang kurasakan karena hanya hujan yang mampu melunturkan air mataku.

Hujan itu tak pernah menjelma kristal-kristal jernih yang bisa kusimpan setiap hari. Hujan itu tak pernah mau menemaniku terlalu lama. Hujan itu hanya ingin mengatakan bahwa aku bisa hidup tanpa harus setiap hari menunggu derainya menyapaku.

Hujan itu menemaniku dalam ragu. Hujan itu menemaniku menunggumu.


Jakarta, 080312

21.2.12

Ironi

Aku tak sendiri. Kalau aku merasa sendiri, aku akan menatap cermin. Bukankah bayanganku masih ada di sana, tersenyum kepadaku seolah mengatakan kalau aku tidak sendiri. Ya, aku tidak sendiri.

Aku tak sendiri. Saat aku berdiri menantang matahari dan menengok, bukankah bayang-bayangku masih ada di situ menemaniku. Ya, aku tidak sendiri.

Kemana dirimu pergi dari mataku?
Aku pun tak tahu.
Tapi jangan khawatir, aku di sini tidak sendiri.

Aku tak sendiri. Saat aku terdiam dan merasa sendiri, air mataku akan menghampiriku dan mengguratkan senyum pada wajahku. Ya, aku tidak sendiri.

Aku tak sendiri.
Ada sesuatu dalam dirimu yang dulu pernah kau berikan kepadaku. Tapi aku tidak ingat apakah itu. Yang aku ingat aku telah menguraikan dan memintalnya menjadi sebuah jalinan cerita panjang yang akan kubawa ketika mimpiku akan menjelang. Disana aku akan menemuimu, tersenyum kepadaku.
Aku tak sendiri.

Aku tak sendiri. Saat aku ingin berdiri dan berlari menemuimu, aku hanya akan diam di sini, menunggumu. Walau aku tahu kau tak akan pernah tahu kalau aku masih menunggumu. Ya, aku tidak sendiri.

Kau masih menari di pelupuk mataku. Aku tak sendiri. Kau masih berdengung di telingaku. Aku tak sendiri. Kau masih terucap lembut di bibirku. Aku tak sendiri.

Ya, aku tak sendiri.


Jakarta, 210212

6.1.12

Sosok - Terra

          Aku mengintip hamparan dunia dari balik kelamnya jubah sang malam. Merobek cinta dan canda yang berserak, tumbuh dan gugur bagai daun-daun cendana. Aku datang membonceng angin utara yang dingin menusuk urat nadi dan menembus aliran darahmu. Membawa hawa langit yang panas dan melagukan senandung yang menyayat hati dan jiwamu.

          Aku bisa mendengar setiap desah dan setiap derak dari tarik dan hembus napasmu. Aku dapat mencium aroma ketakutan yang menguar dari tubuhmu dan bercampur dengan udara di sekitarmu. Aku dapat melihat keputusasaan menyelimutimu dalam lingkaran kematian yang bersiap menjemputmu.

          Aku dapat membawamu ke tempat yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Bahkan imajinasimu tak akan mungkin dapat menampungnya.

           Ya. Aku dapat mengantarmu ke tempat yang lebih indah dari dunia yang dulu ditinggali nenek moyangmu ini. Di sana tak akan lagi ada terik yang membakar dan tak ada lagi udara yang menyesak. Segala bentuk energi yang dapat kau serap dan gunakan sesuka hatimu berlimpah, tak harus kau hemat seperti yang seharusnya dilakukan nenek moyangmu


           Manusia-manusia manis yang mudah tergoda dunia. Aku diutus untuk menjemput sisa-sisa dari ras kalian karena bumi ini sudah tak punya daya hidupnya lagi. Esok nanti ketika cahaya kembali menyinari, bumi ini akan kembali hidup dan dihuni oleh manusia yang mau menyayangi tanah kelahirannya sendiri.

          Dalam malam panjang, dalam mimpi yang terbentang, dalam kenangan-kenangan yang terbang. Tanah ini akan beristirahat dalam lingkarannya, kerlip cermin akan padam dan malam akan berkuasa. Terbitnya cahaya akan menghapus dosa dan detik-detik yang baru akan mengawasi manusia. Lahir kembali, mati dalam sendiri. Terlelap dalam mimpi dan terjaga dalam sunyi.


          Selamat tidur tanah merah! Saat matahari terbit nanti, manusia-manusia yang berada dalam detik baru akan lebih menyayangimu.




Jakarta, 160310